Minggu, 18 Maret 2012

THE S.I.G.I.T.

Oleh: Hasief Ardiasyah

sumber : http://rollingstone.co.id


Jakarta - Mari menyimak kisah Rektivianto "Rekti" Yoewono tentang hal yang mendorong dirinya untuk menamakan band-nya The S.I.G.I.T.: "Awalnya itu, saya kalau lagi nggak ada kerjaan, kalau lagi di Internet suka ke Google, iseng nyari nama sendiri. "Rekti" kalau di luar apa ya?," tutur vokalis-gitaris berusia 25 tahun itu. Terus ngetik nama bapak saya, Sigit. Terus ternyata, Sigit.com itu Science Interest Group "anjing, keren juga ya. Jadi gue cari kata-kata sendiri."

Cerita itu dapat mewakili sisi intelek sekaligus humoris yang terdapat pada The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, kuartet asal Bandung yang menggabungkan tema lirik yang kontemplatif dengan musik rock & roll primitif, di mana Led Zeppelin, The Clash dan The Beatles menjadi pengaruh utama yang menyatukan selera keempat sahabat ini. "Kami terinfluence lagu-lagu lama, tapi intinya kami memang suka ngerock," kata bassis Aditya Bagja Mulyana alias Adit, 25 tahun. "Bukan ngepop, karena kami bukan penyanyi yang baik [tertawa]!"

The S.I.G.I.T. berasal dari pertemanan Rekti, Adit, gitaris R. Farri Icksan Wibisana alias Farri (23 tahun) dan drummer Donar Armando Ekana alias Acil (24 tahun). "Sering main bareng, terus ada ritual liburan bareng-bareng berempat," kata Adit. Dalam salah satu perjalanan berempat ini, mereka menyaksikan penampilan band kakak Adit di Jakarta, lalu terdorong untuk membentuk sebuah band. "Pas kami bentuk band, di Bandung lagi musim clubbing. Kami lagi eneg pada waktu itu," kata Acil.

Setelah sempat membawakan lagu-lagu The Stone Roses, The Seahorses dan The Charlatans di bawah nama The Cinnamons dan The You-Yous, akhirnya di tahun 2002 The S.I.G.I.T. mulai membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri. Walau mereka muncul di saat garage rock sedang bangkit lagi di dunia musik, The S.I.G.I.T. enggan terjebak dalam kategori itu. "Pada musim garage rock kami dicap garage, itu sesuatu yang ingin kami hindari dari dulu," kata Rekti, yang bernyanyi dengan lengkingan yang mengingatkan pada Robert Plant atau Jack White. "Mau disebut apapun alirannya, kami bukan aliran itu."

Apapun alirannya, yang pasti nama The S.I.G.I.T. pelan-pelan terangkat berkat show mereka yang dahsyat, serta E.P. The Super Insurgent Group of Intemperance Talent yang dirilis pada tahun 2004 melalui Spills Records. Lalu album perdana yang dinanti-nantikan tak kunjung muncul, sebelum akhirnya di akhir 2006 mereka merilis Visible Idea of Perfection melalui FFCUTS, bagian dari label independen terkemuka di Bandung, FFWD Records.

"Waktu itu belum ada label yang mau ambil kami, terus kami berpikiran, 'Ya udah, kalau belum ada label kita nabung, jalan sendiri.' Sekalian matangin materi, kami rekam sendiri. Pas lagi jalanin, datanglah tawaran dari FFWD," kata Adit tentang masa absen itu. Tawaran itu rupanya datang tepat pada waktunya, karena Rekti sempat merasa frustrasi karena tak ada perkembangan, yang dituangkan ke lagu "No Hook." "Saya pernah merasa kalau main band begini nggak ada gunanya. Pokoknya sebelum keluar album agak sedikit putus asa. 'Kok nggak bikin album ya? Padahal udah manggung terus.' Sedang capek aja," katanya. "Tapi pada akhirnya, ya udahlah, saya bertahanlah."

Walau wabah garage rock telah berlalu, The S.I.G.I.T. tidak merasa ketinggalan kereta "selama kami punya konsep yang kuat," menurut Acil. "Setelah masanya lewat dan orang masih menunggu, di situ saya berharap kalau kami bisa memanfaatkan keadaan ini untuk membuktikan bahwa kami bukan terbawa arus garage," kata Rekti. "Saya sendiri nggak yakin kalau 2004 kami (bisa) bikin album seperti yang sekarang ini."

Visible Idea of Perfection (yang judulnya diambil dari buku Ideals & Idols: Essays On Values in History and in Art karya E.H. Gombrich) berisi 12 lagu, termasuk beberapa lagu dari E.P. yang direkam ulang dan dimasukkan ke album "karena masih bisa diperjuangkan," menurut Farri. Lirik lagu dibuat dalam bahasa Inggris karena "saya terus terang dari kecil kebanyakan dengar lagu berbahasa Inggris. Emang jarang dengerin lagu bahasa Indonesia," kata Rekti, penulis sebagian besar lirik.

Hal-hal yang menjadi topik lirik dapat dibilang menarik. Ada sebuah tema besar yang dapat ditangkap, yaitu ketidakpuasan terhadap kondisi sekitar. "Live in New York" bercerita tentang keinginan untuk hijrah ke tempat yang lebih menarik; "New Generation" menghujat lingkaran setan yang menghubungkan malnutrisi dengan kebodohan; dan empat lagu "Let It Go," "Save Me," "Clove Doper" dan "Satan State" adalah komentar terhadap "sifat orang-orang di sekeliling saya," menurut Rekti, yang menyebut politikus, dosen, tokoh agama dan orang Indonesia pada umumnya. "Kalau ada orang yang mengatakan 'Saya orang suci, Anda tidak suci,' saya membantah semua orang yang mengatakan bahwa 'Saya superior' dalam bidang tertentu. Bagi saya, itu adalah sesuatu yang tidak menarik dan tidak penting."

Tak semua lagu mengandung tema seberat itu. "Soul Sister" bercerita tentang teman SMP Rekti dan Adit yang memanfaatkan jasa seorang waria; "Nowhere End" dan "All the Time" malah bercerita tentang cinta, walau dengan sudut pandang yang tak biasa. "Saya pernah mendapat e-mail yang membahas itu, dan itu bikin semangat untuk belajar lebih banyak lagi tentang bagaimana menulis lirik, daripada mendengar pujian yang 'lagu lo ngerock banget!'" kata Rekti. "Senang sih, cuma itu saya anggap 'ya udahlah.' Bisa berbahaya untuk diri sendiri. Saya berharap kalau ada yang mendengarkan dan memperhatikan lirik, apa yang saya maksud bisa sampai, dan kalau menyampaikan kritik sesuai dengan apa konteksnya."

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More